Mencicipi Gudeg Bromo, Yogyakarta.

Ketika itu hari Jumat, kebetulan lagi mendapatkan tugas kantor ke Yogyakarta. Karna abis nonton film aruna dan lidahnya, gue langsung minta saran ke teman kantor yg orang jogja “kuliner apa yang wajib gue coba disana?” dan disarankan untuk mencicipi gudeg bromo.

Setibanya di Jogja jam 11 malam, gue langsung meluncur ke gudeg bromo menggunakan Go-Car dari bandara. Ternyata lokasinya dekat dengan UNY.

Baru sampe langsung antri, antriannya panjang. Di antrian terdapat beberapa supir gojek. Kita ngantri bareng bareng bisa sampe satu jam lebih. Gue sih gapapa, tapi kasian supir gojeknya, dapet gak seberapa tapi harus antri panjang yang sebenernya bisa untuk mendapatkan orderan lain.

Setelah satu jam antri baru deh bisa berada di posisi terdepan dan langsung pesen. Dan ternyata.. emang rasanya enak banget sih, beda dari gudeg gudeg lainnya di jogja. Rasa pedes dan bumbu-bumbunya kerasa banget. Walaupun agak lebih mahal dari gudeg lainnya. Wajib coba sih kalo pada main ke jogja. Lain kali pasti gue bakal mampir kesini lagi, tapi kalo lagi gak laper laper banget. Kalo laper banget mending makan di tempat lain dulu.

Advertisements

Sejarah Singkat Candi Borobudur

Candi Borobudur ini dibangun oleh seseorang bernama Samaratungga, merupakan seorang raja kerajaan Mataram Kuni yang juga keturunan dari Wangsa Syailendra pada abad ke-8 M. Keberadaan candi ini pertama kali diketahui oleh Thomas Stanford Rafles sekitar tahun 1814.

Ketika itu, pertama kali candi borobudur ini ditemukan dalam keadaan berserakan dan terpendam tanah. Candi yang memiliki 10 tingkat ini sebenarnya mempunyai tinggi secara keseluruhan yaitu 42 meter.

Namun setelah dilakukan restorasi, tinggi keseluruhan candi borobudhur ini hanya mencapai 34,5 meter dengan luas secara keseluruhan yaitu 123×123 meter atau 15.129 m2. Setiap tingkat lantainya, dari lantai paling bawah hingga lantai keenam berbentuk persegi, sedangkan lantai ketujuh sampai terakhir (lantai ke sepuluh) berbentuk bulat.

Candi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar pada abad ke-9 M. Menurut Prasasti Kayumwungan, candi ini terungkap dalam pembangunannya, selesai dibuat pada 26 Mei 824, atau hampir 100 tahun semenjak mulai awal dibangun. Konon arti dari Borobudur itu sendiri maksudnya gunung yang berteras-teras atau bisa juga disebut dengan budhara. Pendapat lain tentang candi Borobudur yaitu bahwa candi borobudur berarti biara yang terletak di tempat yang tinggi.

Beberapa ahli mengatakan bahwa letak Candi Borobudur berada pada ketinggian 235 meter dari permukaan laut. Pemikiran itu berdasarkan studi dari paraa ahli Geologi membuktikan bahwa Candi Borobudhur pada saat itu adalah sebuah kawasan danau yang besar sehingga sebagian besar desa-desa yang berada di sekitar Candi berada pada ketinggian yang sama, termasuk Candi Pawon dan Candi Mendut.

Berdasarkan Prasasti tanggal 842 AD, seorang sejarawan Casparis menyatakan bahwa Borobudur merupakan salah satu tempat untuk berdoa. Di mana dalam prasasti tersebut mengandung kata “Kawula i Bhumi Sambhara” yang artinya asal kesucian dan Bhumi Sambara merupakan nama sebuah sudut di Candi Borobudur tersebut. Setiap lantai pada Candi Borobudur ini terdapat tema-tema yang berbeda karena pada setiap tingkat tersebut melambangkan tahapan kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan ajaran Buddha Mahayana bahwa setiap orang yang ingin mencapai tingkat kesempurnaan sebagai Buddha harus melalui setiap tahapan kehidupan. Pada setiap lantai di Candi Borobudhur terdapat relief-relief yang bila dibaca dengan runtut akan membawa kita memutari candi searah jarum jam.

Mengenal Sejarah Keraton Yogyakarta Di Museum Ullen Sentalu

Jika kamu ingin mengenal lebih jauh sejarah kerajaan atau keraton Yogyakarta, maka kamu harus mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Ullen Sentalu berada di kaki Gunung Merapi, tepatnya di daerah Pakem, Kaliurang. Lokasinya memang agak tertutup oleh lebatnya pepohonan yang membuat Museum Ullen Sentalu sangat susah untuk ditemukan.

Kata Ullen Sentalu merupakan singkatan dari “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku.” yang memiliki arti “Nyala lampu blencong” yang merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan. Blencong sendiri adalah lampu minyak yang biasa dipergunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Cahaya dari lampu minyak ini diumpamakan sebagai cahaya yang selalu menerangi perjalanan hidup kita, dan mengarahkan kita dalam kehidupan ini.

Di dalam gedung yang bergaya klasik eropa ini menampilkan banyak koleksi kerajaan keraton Yogyakarta terdahulu, mulai dari pakaian adat seperti batik, senjata seperti keris, lukisan bersejarah keraton, serta alat-alat untuk melakukan ritual di dalam keraton Yogyakarta.

Saat memasuki area museum kita harus ditemani oleh seorang tour guide / pemandu wisata kita di dalam museum. Nah, tour guide inilah yang menjelaskan ke kita cerita sejarah barang-barang yang ada dalam Museum. Biaya tour guide sudah termasuk harga karcis, jika datang sendiri biasanya dipersilahkan untuk menunggu terlebih dahulu untuk menunggu tamu lain untuk menjadikannya satu group karena tour guide yang terbatas dilokasi. Tapi, semakin sedikit orang dalam satu group akan semakin merasakan aura Museum Ullen Sentalu. Keadaan museum yang dibangun dengan baik, mampu membuat pengunjung seperti terserap ke masa Jawa kuno yang mengagumkan.

Setelah kita berkeliling di dalam museum, kita akan disajikan jamu tradisional ala keraton Yogyakarta terdahulu, dengan resep tradisional pastinya. Dan lagi-lagi, jamu ini sudah termasuk harga di dalam tiket, jadi buat yang mau pergi dengan duit pas-pasan bisa lebih tenang. Tetapi, jika ada duit lebih, di area Museum Ullen Sentalu ini juga menyediakan restoran, bernama Beukenhoof Restaurant.

Selama di dalam Museum, anda tidak boleh menggambil foto atau video. Jika ingin berfoto, pihak museum sudah menyiapkan tempat tersendiri dengan background replika relief di Candi Borobudur.

Screen Shot 2018-07-03 at 11.39.04 AM.png

Relief ini sebenarya dalam posisi miring, yang melambangkan masyarakat Jawa yang mulai melupakan budaya leluhurnya. Bagimana saya bisa untuk sampai kesana?

Screen Shot 2018-07-03 at 11.41.07 AM.png

Untuk ke Museum Ullen Sentalu dari jalan malioboro sangat mudah sekali untuk ditempuh, sekiranya 1 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Di jaman smartphone ini, anda bisa menggunakan aplikasi google maps atau waze untuk membantu anda untuk sampai ke lokasi. Atau bisa bertanya kepada warga setempat yang sangat ramah sekali.

Berapa harga tiket di Museum Ullen Sentalu?

untuk wisatawan domestik Rp. 25.000,- untuk umum, dan Rp. 15.000,- untuk pelajar. Sedangkan harga tiket untuk wisatawan mancanegara umum Rp. 45.000,- dan Rp. 25.000,- untuk mahasiswa/pelajar.

Sekian artikel mengenai Museum Ullen Sentalu, mari kita perdalam lagi ilmu kita mengenai budaya lokal serta turut menjaganya. Terima kasih.

 

Sumber Foto Sampul : https://ksmtour.com/en/informasi/tempat-wisata/yogyakarta/museum-ullen-mengenal-budaya-jawa-yogyakarta.html