Berawal dari cerita saya sendiri mencari beberapa referensi buku “Cendikiawan dalam negara orde baru” karya Daniel Dhakidae di toko buku di sekitaran Jakarta, dan ternyata memang buku tersebut sudah tidak ada lagi di toko buku yang ada di Jakarta.

Karena  memang buku-buku cetakan lama sudah tidak terbit lagi, saya juga mencoba mencari di toko buku bekas seperti di pasar senen jakarta pusat, toko buku bekas di Taman Ismail Marzuki, dan beberapa pasar buku bekas lainnya. Memang benar mencari buku cetakan lama tersebut tidaklah mudah di Jakarta. Karena sulitnya mencari buku tersebut saya berfikir untuk mencari di Perpustakaan Nasional yang berada di Jakarta, yang bertempat di Jl. Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat.

Setelah tiba disana, di gedung perpustakaan nasional yang bersebelahan dengan balai kota ini, pagar perpustakaan tertutup rapat. Saya berhenti sejenak di depannya.  Saya hanya melihat sebuah mobil berwarna hitam dengan plat nomor merah (mobil dinas pegawai negeri) dan Bus Dinas milik Perpustakaan Nasional yang di parkir di halaman perpustakaan nasional tersebut. setelah saya melihat jam tangan saya, waktu menunjukan pukul  14.00 WIB, saya ingat hari itu adalah hari senin 11 Februari 2013. Ya, waktu menunjukan  jam kerja normal setiap instansi pemerintah maupun swasta.

Saya mencoba menghampiri pos kemanan yang terletak di bagian kiri gedung, ternyata juga tidak ada yang menjaga, hanya ada sebuah tongkat pengaman yang tergantung di tembok pos tersebut. Akhirnya saya coba untuk membuka internet melalui smartphone saya. Dengan akses google, akhirnya saya menemukan web resmi perpustakaan nasional Negara, dengan alamat domain www.pnri.go.id , setelah saya buka web tersebut. Di laman pertama bagian kiri ada alamat perpustakaan nasional yang ebrada di jakarta, dibawahnya ada ada jadwal layanan perpustakaan dan tertulis disitu: Senin – Jumat 08.00 – 18.00 dan  Sabtu 09.00 – 16.00 – Minggu 09.00 – 16.00. tetapi pada kenyataannya setelah saya tunggu kurang lebih 45 menit sampe pukul 14.45 tidak ada satu orang pun yang nampak dari gedung tersebut.

Mungkin dari sedikit cerita diatas masih banyak orang-orang yang mengalami hal serupa seperti yang saya alami. Dari hal seperti ini saya berfikir bahwa, begitu susahnya kita sebagai mahasiswa atau mungkin kalangan masyarakat yang lainnya yang sebenarnya membutuhkan banyak referensi buku-buku yang sudah susah di cari di toko buku, berharap masih bisa menemukan buku tersebut di perpustakaan nasional. Tetapi dengan sistem yang diterapkan perpusnas seperti ini, bagi saya semakin banyak orang-orang yang sudah tidak peduli lagi dengan buku-buku, apalagi dengan perpustakaan nasional, hal ini berbanding terbalik dengan kondisi perpustakaan di negara lain, seperti di negara Singapura, perpustakaan yang tidak kalah megahnya dengan perpustakaan nasional kita yang berada di jakarta, dengan segala fasilitas yang ada, management perpustakaan yang begitu terkonsep dengan rapi, perpustakaan nasional di Singapura sangat diminati kalangan pelajar, dari anak SD sampai anak kuliah. Mereka selalu menyempatkan waktu disaat puang sekolah untuk ke perpustakaan nasional mereka, karena memang perpustakaan nasioanl mereka sangat mendukung masyarakat untuk giat membaca dan datang keperpustakaan mereka.

Perpustakaan nasional mereka buka pukul 07.00 waktu setempat dan tutup pukul 20.30 waktu setempat. Dari pengaturan waktu yang mereka terapkan saja memang membuktikan jelas mereka mendukung masyarakat untuk datang keperpustakaan karena memang sekolah-sekolah disana (Singapura) masuk pukul 09.00 dan selesai pukul 16.45 ada juga yang selesai pukul 17.00, jadi para pelajar disana dan juga masyarakat memiliki kesempatan untuk datang ke perpustakaan nasional, untuk membaca atau meminjam buku-buku yang mereka minati.

Dari perbandingan tadi, saya melihat bagaimana masyarakat kita mau kaya dengan referensi buku, jika memang pemerintah (perpusnas) kurang mendukung masyarakatnya untuk datang dan membaca. Padahal sangat jelas jika kita buka laman web www.pnri.go.id dibagian kiri web ada tulisan yang mengkampanyekan “ayo ke perpusnas”. Ironi memang meilhat kondisi management perpustakaan nasional seperti ini, mungkin masih banyak lagi permasalahan yanga da di perpustakaan nasional atau mungkin perpustakaan daerah lainnya. Dari permasalahan ini mari kita semua kalangan masyarakat mendukung dan mendesak pemerintah untuk memperbaiki management yang ada di perpustakaan nasional yang gunanya untuk memperkaya khazanahilmu setiap masyarakat. Seperti yang tertera di pembukaan undang-undang dasar negara repubik Indonesia 1945 alinea ke empat  yang berbunyi “kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”.

Mari kita segenap element masyarakat mendorong pemerintah untuk menjadikan perpustakaan nasional sebagai kebutuhan bagi masyarakat, meningkatkan budaya membaca buku di dalam masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya seperti kutipan seorang penyair asal Chili, Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto. “The books that help you most are those which make you think that most. The hardest way of learning is that of easy reading, but a great book that comes from a great thinker is a ship of thought, deep freighted with truth and beauty”.

Artikel ini ditulis oleh: Dipo Suryo Wijoyo

Written by kadekpermadi

Vi Veri Veniversum Vivus Vici

Leave a Reply